Aku mengembara di jalan sunyi
Mencari cahaya terang-Mu
Untuk menyampaikan rindu, cinta dan pilu
Menyempurnakan sayap sayap yang patah
Juga luka luka yang masih menganga

Tak ada lagi kicau burung bernyanyi
Hanya tetes embu pagi bersemedi
Aku terkubur sepi
Saat kekasih tiada di sisi

Berbicaralah dengan bibirmu seirama hatimu,
Agar tidak terbelenggu pada imajinasi semu
Lalu menggelinding bagai bola salju
Membeku membatu di kalbu

Bila musyawarah telah musnah
Ego telah menenggelamkan kesadaran
Kebenaran tidak lagi menjadi tujuan
Dendam menyiksa batin tanpa jelas alasan

Ini bukan soal piala
Tapi soal budaya, kepedulian dan kesadaran
Pada kelestarian lingkungan
Tempat kita menanam cinta
Dan membangun segala asa

Permesta ialah satu peristiwa yang tak bisa dilepaskan dari memori kolektif sejarah Bolaang Mongondow Raya. Di ujung pemberontakan, pada 1959, Kotamobagu sebagai benteng terakhir menjelma samudera api. Enam puluh persen dibakar, dan rumah sakit umum menjadi saksi bisu. Puisi ini–kalau kita bisa menyebutnya puisi–ditulis setelah membaca teks Permesta dari Barbara Harvey dan skripsi Dion Mokoginta, dengan harapan puisi bisa memberi nyawa tersendiri bagi ingatan kita.