Air mata tumpah ruah
Bajir darah suhada tergenang dimana mana
Tangis pilu Perempuan dan anak anak
Di antara debu dan reruntuhan
hujan rudal zionis bengis
Di negeri para nabi
Negeri palestina

Duka kami begitu dalam
Lebih dalam dari laut Bali tempat terakhirmu bersemedi penuh misteri
53 patriot menjadi Kusuma bangsa
Menirwana selamanya

Mencandai Pantai Bungin Lolak sambil memeluk malam
Menjaring sunyi pada lagu puji pujian bersama gelombang
Dengan melodi kerinduan seirama deburan ombak yang memecah di bibir pantai
Merawat damai dengan cinta kasih
Bersama keluarga dan sahabat

Aku mengembara di jalan sunyi
Mencari cahaya terang-Mu
Untuk menyampaikan rindu, cinta dan pilu
Menyempurnakan sayap sayap yang patah
Juga luka luka yang masih menganga

Tak ada lagi kicau burung bernyanyi
Hanya tetes embu pagi bersemedi
Aku terkubur sepi
Saat kekasih tiada di sisi

Berbicaralah dengan bibirmu seirama hatimu,
Agar tidak terbelenggu pada imajinasi semu
Lalu menggelinding bagai bola salju
Membeku membatu di kalbu

Bila musyawarah telah musnah
Ego telah menenggelamkan kesadaran
Kebenaran tidak lagi menjadi tujuan
Dendam menyiksa batin tanpa jelas alasan

Ini bukan soal piala
Tapi soal budaya, kepedulian dan kesadaran
Pada kelestarian lingkungan
Tempat kita menanam cinta
Dan membangun segala asa

Mencintaimu serupa ombak di lautan
Kadang teduh, kadang pula bergemuruh
Bila angin berhembus kencang
Kadang aku terhempas di tepian